Salam UI Mengabdi Ajak Warga Tegalmaja Menemukan Kekuatan dari Potensi Desanya

Di Tengah Himpitan Kawasan Industri, PANGLIMAJA Salam UI Mengabdi Ajak Warga Tegalmaja Menemukan Kekuatan dari Potensi Desanya

 

 

Kabupaten Serang, Banten — Pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Kemdiktisaintek 2026, Lembaga Dakwah Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (SALAM UI) menghadirkan program PANGLIMAJA (Panggung Literasi Masyarakat Berkelanjutan) di Desa Tegalmaja, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten.

Mengusung tema “PANGLIMAJA (Panggung Literasi Masyarakat Berkelanjutan) Berbasis Communal Sustainability dalam Membangun Masyarakat Cerdas yang Berkelanjutan di Desa Tegalmaja”, program ini dirancang sebagai upaya meningkatkan literasi, kecakapan hidup, dan kemandirian masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal desa. Pendekatan communal sustainability menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam membangun keberlanjutan melalui penguatan komunitas, keseimbangan ekologi, ketahanan sosial, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Di Tengah Kawasan Industri, Tegalmaja Menjaga Potensi Lokal

Desa Tegalmaja memiliki karakteristik yang unik. Berada di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, desa ini terdiri atas enam kampung dengan jumlah penduduk mencapai 3.782 jiwa. Sebanyak 3.099 penduduk merupakan pekerja aktif yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung, petani, pedagang, dan buruh tani.

Di tengah dinamika kawasan industri, masyarakat Tegalmaja tetap berupaya mempertahankan identitas dan keberadaan desa melalui aktivitas produktif berbasis potensi lokal. Salah satu potensi yang menonjol adalah kerajinan anyaman berbahan bambu dan limbah kertas karton. Sebanyak 30 pengrajin tercatat mampu menghasilkan sekitar 500 produk anyaman dan 100 produk rajutan setiap bulan. Namun, rata-rata pendapatan masyarakat yang masih berada di bawah Rp2 juta per bulan menunjukkan bahwa potensi ekonomi tersebut masih membutuhkan penguatan kapasitas dan pengembangan nilai tambah.

Persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Hasil survei dan wawancara tim PPK ORMAWA SALAM UI menemukan sejumlah tantangan lain, mulai dari rendahnya kapasitas dan partisipasi masyarakat, keterbatasan inovasi serta standardisasi produk anyaman, minimnya literasi digital dan pemasaran, rendahnya literasi serta minat belajar anak, hingga persoalan pengelolaan sampah di lingkungan desa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi desa membutuhkan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mempraktikkan keterampilan secara langsung dan mengembangkannya secara berkelanjutan.

Lima Pojok Literasi untuk Lima Tantangan Desa

Menjawab berbagai persoalan tersebut, PANGLIMAJA dikembangkan melalui lima Pojok Literasi yang saling terintegrasi.

Pertama, Pojok Kriya Maja atau Sanggar Anyam Kreatif. Program ini ditujukan bagi pengrajin, ibu-ibu PKK, dan lansia melalui pelatihan inovasi desain kontemporer serta manajemen konsistensi produksi. Tujuannya adalah membantu masyarakat menghasilkan produk anyaman yang lebih inovatif dengan ukuran, kerapian, dan kualitas yang lebih seragam.

Kedua, Pojok Media Maja sebagai Pusat Konten dan Pemasaran. Program ini menyasar remaja dan komunitas pengembang literasi digital desa melalui pelatihan fotografi produk, penyusunan katalog, strategi pemasaran digital, serta green storytelling. Melalui program ini, produk lokal diharapkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Ketiga, Pojok Mutu Maja, yaitu Klinik Kurasi dan Standardisasi. Masyarakat dilatih memahami quality control, kurasi produk, perhitungan harga pokok produksi, hingga strategi penentuan harga. Dengan demikian, pengrajin dan pengelola produk desa diharapkan mampu membangun tata kelola usaha yang lebih profesional.

Keempat, Pojok Tunas Maja atau Markas Literasi dan Mimpi. Program ini menyasar anak-anak usia sekolah melalui kegiatan literasi, seminar motivasi, penulisan kreatif, dan pengenalan potensi lokal. Anak-anak didorong untuk mengenal identitas desanya, memiliki cita-cita, serta memandang pendidikan sebagai bagian penting dari masa depan mereka.

Kelima, Pojok Asri Maja atau Aksi Sampah Resik dan Inovatif. Program ini mengajak masyarakat memahami pemilahan sampah rumah tangga sekaligus memanfaatkan limbah melalui kegiatan upcycling. Limbah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai guna dan bernilai jual.

Kelima program tersebut dirancang bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Masing-masing pojok memiliki fungsi yang saling mendukung dalam membangun ekosistem literasi sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan di Desa Tegalmaja.

 

Belajar Tidak Berhenti di Ruang Kelas

PANGLIMAJA membawa gagasan bahwa literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, literasi juga mencakup kemampuan mengelola usaha, memanfaatkan teknologi, menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta memahami potensi diri dan lingkungan sekitar.

Karena itu, metode pelaksanaan program tidak hanya berupa sosialisasi. Tim melakukan identifikasi masalah, survei lapangan, Focus Group Discussion (FGD), pemetaan program bersama masyarakat, pembentukan kelompok binaan, pelaksanaan edukasi dan pelatihan, hingga monitoring dan evaluasi.

Program dirancang melalui 12 kali pertemuan partisipatif di lima Pojok Literasi. Menyentuh partisipasi 581 warga menjadi sasaran program yang terdiri atas kelompok pengrajin, pemuda dan pengembang literasi digital desa, perempuan dan laki-laki produktif, pengurus lingkungan, ibu rumah tangga, masyarakat umum, serta anak usia sekolah dasar.

Melalui pola tersebut, masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat. Mereka dilibatkan sejak proses identifikasi kebutuhan hingga pelaksanaan dan evaluasi program.

Dari Anyaman hingga Limbah, Semua Menjadi Potensi

Salah satu semangat utama PANGLIMAJA adalah mengubah cara pandang terhadap potensi lokal. Anyaman tidak hanya dilihat sebagai kerajinan tradisional, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki desain lebih inovatif, kualitas lebih konsisten, serta strategi pemasaran yang lebih luas.

Begitu pula dengan limbah. Melalui Pojok Asri Maja, masyarakat diperkenalkan pada pengelolaan sampah dan upcycling sehingga limbah dapat diolah menjadi aksesoris yang terintegrasi dengan produk anyaman. Pendekatan tersebut mempertemukan aspek ekonomi dan lingkungan dalam satu rangkaian pemberdayaan.

Sementara bagi generasi muda, Pojok Tunas Maja menjadi ruang untuk belajar sekaligus mengenal identitas desa. Anak-anak tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga diajak memahami bahwa budaya dan potensi lokal dapat menjadi bagian dari masa depan mereka.

Membangun Keberlanjutan Bersama Masyarakat

Keberlanjutan menjadi salah satu fondasi utama PANGLIMAJA. Program ini tidak dirancang untuk berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan rangkaian kegiatan. Pemerintah Desa Tegalmaja dilibatkan dalam koordinasi, penyediaan fasilitas, penyebaran informasi, serta monitoring dan evaluasi program. Kader desa juga berperan dalam edukasi, mobilisasi masyarakat, pendataan potensi desa, dan tindak lanjut intervensi literasi.

Kolaborasi juga dibangun dengan berbagai pihak, termasuk kelompok masyarakat, Karang Taruna, PKK, serta sejumlah perangkat pemerintah daerah. Dalam aspek lingkungan, mitra pemerintah daerah diarahkan untuk mendukung tata kelola sampah dan pengembangan upcycling. Sementara dalam aspek pemasaran, kolaborasi diarahkan pada penguatan legalitas, standardisasi, promosi, serta perluasan pasar produk masyarakat.

Keberlanjutan tersebut juga diperkuat melalui pembentukan kelembagaan pengelola Pojok Literasi yang dinamakan Panglimaja Cerdas. Dengan adanya kelembagaan, pembelajaran dan pengembangan produk desa diharapkan dapat terus berjalan meskipun program mahasiswa telah selesai.

Dari Kampus untuk Desa, dari Desa untuk Masa Depan

 PANGLIMAJA pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai program pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Lebih jauh, program ini menjadi ruang kolaborasi untuk mempertemukan pengetahuan perguruan tinggi dengan pengalaman dan potensi masyarakat desa.

Melalui lima Pojok Literasi, masyarakat Tegalmaja didorong untuk mengembangkan keterampilan, memperkuat potensi ekonomi lokal, meningkatkan literasi generasi muda, serta membangun kesadaran terhadap lingkungan. Sementara bagi mahasiswa, proses tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung dan mengembangkan kemampuan dalam merancang serta mengelola program pemberdayaan.

Berbagai luaran program juga disiapkan untuk memperkuat dampak dan dokumentasi, mulai dari buku refleksi, modul pembelajaran lima Pojok Literasi, produk anyaman dan aksesoris daur ulang, zine anak, katalog dan video profile produk di website, poster infografis, video dokumenter, hingga policy brief bagi pemerintah daerah.

Dengan pendekatan communal sustainability, PANGLIMAJA membawa satu gagasan sederhana: pembangunan desa yang berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menghadirkan program, tetapi membutuhkan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, rasa memiliki, dan kemampuan untuk melanjutkannya bersama.

Dari anyaman yang diwariskan lintas generasi, kreativitas anak-anak, semangat pemuda, hingga kepedulian terhadap lingkungan, Desa Tegalmaja memiliki modal sosial untuk tumbuh. PANGLIMAJA hadir untuk memperkuat modal tersebut agar potensi lokal tidak berhenti sebagai kekayaan desa, tetapi berkembang menjadi kekuatan bagi terciptanya masyarakat yang cerdas, berdaya, dan berkelanjutan.

Sebagai bentuk implementasi tri dharma perguruan tinggi, pada 2026 Subdit Prestasi Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) melalui program PPK ORMAWA yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (KEMENDIKTI). Melalui submisi tersebut SALAM UI terpilih menjadi satu-satunya perwakilan ORMAWA Universitas Indonesia yang lolos di antara ribuan pendaftar dari berbagai kampus.

Lebih lanjut, Lembaga Dakwah Nuansa Islam Mahasiswa Universitas Indonesia (SALAM UI) melalui program Panglimaja Salam UI Mengabdi 7.0, Program ini melaksanakan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Panglimaja (Panggung Literasi Masyarakat Berkelanjutan) Berbasis Communal Sustainability dalam Membangun Masyarakat Cerdas yang Berkelanjutan di Desa Tegalmaja, Kragilan, Kabupaten Serang, Banten.” Program ini berlangsung pada tanggal 4–17 Juli 2026 dan menyasar penguatan perilaku hidup sehat masyarakat desa yang berada di kaki Gunung Halimun.

Kesulitan akses tersebut menjadi akar masalah berbagai hal yang dialami masyarakat, tentunya hal ini meliputi berbagai sektor mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain. Namun, kami menyadari juga bahwa SALAM UI tentu tidak bisa menyelesaikan semuanya, melalui pertimbangan Subdit Prestasi Mahasiswa Universitas Indonesia dan PPK ORMAWA UI maka kegiatan intervensi di Desa Cihamerang, Kabupaten Sukabumi dijalankan untuk membantu menyelesaikan beberapa masalah kesehatan yang terjadi di Desa Cihamerang, Kabupaten Sukabumi.

Tim SALAM UI mengidentifikasi beberapa masalah diantaranya jarak tempuh ke Puskesmas Kabandungan yang merupakan layanan kesehatan tingkat pertama bisa mencapai 8–12 kilometer dengan jalanan berbatu, penuh tanjakan dan turunan yang cukup ekstrim, serta jalanan sempit yang sulit dilalui, terlebih ketika hujan turun. Selain itu, data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa rasio tenaga kesehatan di Kecamatan Kabandungan hanya 0,7 per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar WHO yang merekomendasikan minimal 2,3 tenaga kesehatan per 1.000 penduduk (World Health Organization, 2006; Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, 2023). Berdasarkan data laporan kunjungan Puskesmas Kabandungan tahun 2023, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare menempati dua besar penyebab kunjungan di wilayah Cihamerang, dengan total lebih dari 340 kasus ISPA dan 120 kasus diare dalam setahun (Puskesmas Kabandungan, 2023). Angka tersebut mencerminkan lemahnya sistem ketahanan kesehatan lingkungan di tingkat desa.

Untuk membantu menyelesaikan beberapa masalah tersebut metode eco-health atau kesehatan berbasis ekosistem menjadi landasan utama yang digunakan tim SALAM UI. Melalui pendekatan tersebut, kesehatan masyarakat tidak dipandang hanya dari sisi medis, tetapi juga dalam kaitannya dengan kondisi lingkungan, perilaku, dan sistem sosial yang saling memengaruhi. Berdasarkan pemahaman tersebut Tim SALAM UI yang terdiri dari 15 anggota dan 25 volunteer bersama menyusun program-program berikut:

  1. Edukasi Pola Bersih hidup dan Sehat di SD Negeri Girimukti (3 hari),
  2. Eco-Learning Corner & Tong Cermat di SD Negeri Girimukti dan Posyandu Kampung Ciraksamala, Desa Cihamerang, kabupaten Sukabumi,
  3. Skrining dan Cek Kesehatan Dewasa – Lansia,
  4. Puskesmas Keliling (Home Visit),
  5. Pelatihan Kader Kesehatan & Posyandu
  6. Kelas Ibu Hebat

Kegiatan ini dilaksanakan selama 7 hari, terhitung sejak sore 18, Agustus 2025 sampai dengan pagi hari 24, Agustus 2025. Harapannya segala rangkaian ini dapat menjadi solusi dalam pengembangan kebijakan dan implementasi sektor kesehatan untuk masyarakat Desa Cihamerang.

Pelaksanaan kegiatan PPK ORMAWA SALAM UI Mengabdi 6.0 dimulai pada tanggal 18 Agustus 2025. Tim berangkat menuju lokasi pengabdian di kampung Ciraksamala, Desa Cihamerang, Kecamatan Sukadmakmur. Perjalanan panjang dari Universitas Indonesia menuju Desa Cihamerang menjadi awal semangat pengabdian. Tim SALAM UI. Setibanya di lokasi, tim disambut hangat oleh perangkat desa dan masyarakat sekitar serta tim melaksanakan koordinasi dengan Subdit Prestasi Mahasiswa Universitas Indonesia, Dosen Pendamping Lapangan, masyarakat Kampung Ciraksamala, serta perwakilan dari Kepala RT dan Kepala Desa Cihamerang. Kegiatan awal ini menjadi pondasi penting dalam membangun komunikasi dan kerja sama yang baik antara tim mahasiswa dan masyarakat setempat.

Selanjutnya, pada hari berikutnya, tim melaksanakan kegiatan intervensi lapangan melalui program edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan tema “Membuat Tong Cermat” serta layanan Cek Kesehatan Gratis di SD Negeri Giri Mukti. Kegiatan ini menjadi pembuka intervensi edukatif di bidang kesehatan yang berfokus pada peningkatan kesadaran siswa akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan.

Rangkaian pengabdian berlanjut dengan pelaksanaan kegiatan Cek Kesehatan Gratis yang ditujukan bagi masyarakat lokal, khususnya orang tua dan lansia di Kampung Ciraksamala. Layanan kesehatan yang diberikan mencakup pemeriksaan tekanan darah, tinggi dan berat badan, kadar gula, kolesterol, serta asam urat. Selain itu, dilakukan pula skrining kesehatan dan konsultasi untuk memberikan rekomendasi sesuai hasil pemeriksaan. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan yang semakin meningkat.

Setelah itu, tim melaksanakan kegiatan intervensi berupa edukasi lanjutan tentang pola hidup bersih dan sehat. Masyarakat diajak untuk berpartisipasi dalam pembuatan tong cermat serta mini garden sebagai upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan lahan rumah tangga dengan lebih bijak dan ramah lingkungan.

Menjelang akhir kegiatan, tim PPK ORMAWA SALAM UI mengadakan sesi kebersamaan yang berisi refleksi dan apresiasi terhadap seluruh pihak yang telah mendukung program pengabdian. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Cihamerang beserta perwakilan masyarakat Kampung Ciraksamala sebagai bentuk simbolis ucapan terima kasih atas dukungan dan izin yang diberikan selama proses pengabdian berlangsung.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan acara penutupan resmi pada tanggal 23 Agustus 2025. Dalam suasana penuh kehangatan, seluruh peserta, masyarakat, dan tim PPK ORMAWA SALAM UI berkumpul bersama untuk mengakhiri kegiatan dengan rasa syukur dan kebersamaan. Melalui seluruh rangkaian pengabdian ini, PPK ORMAWA SALAM UI berhasil memperkuat sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang lebih sehat, bersih, dan berdaya di Kampung Ciraksamala, Desa Cihamerang, Kecamatan Sukamakmur.

Rangkaian kegiatan selama enam hari tersebut meninggalkan kesan mendalam, baik bagi masyarakat maupun mahasiswa. Masyarakat Desa Cihamerang merasa kegiatan ini membawa manfaat nyata dalam bentuk peningkatan kesadaran terhadap pentingnya hidup bersih dan sehat, terbentuknya kader kesehatan baru yang siap mendampingi warga, serta meningkatnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Bagi mahasiswa sendiri, kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran di luar ruang kelas mereka belajar beradaptasi dengan kondisi lapangan, mengasah kemampuan komunikasi lintas sosial, memperkuat kerja sama tim, serta menumbuhkan kepekaan terhadap masalah kesehatan dan lingkungan.

Program Salam Mengabdi 2025 hadir sebagai bentuk pengembangan dari kegiatan Salam Mengabdi 2024 dengan berbagai inovasi yang lebih luas, terarah, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan pengabdian masih terbatas pada sasaran di lingkungan yayasan atau panti, maka pada tahun 2025 program ini memperluas fokusnya dengan menyasar langsung masyarakat desa sebagai penerima manfaat utama.

Dari segi bentuk kegiatan, inovasi juga sangat terasa. Program yang sebelumnya hanya berupa sosialisasi, kini berkembang menjadi kegiatan edukasi dan intervensi langsung. Edukasi yang diberikan mencakup berbagai topik penting seperti pola hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah berbasis eco-health, serta kesehatan gizi anak. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dilibatkan dalam praktik langsung di lapangan. Fokus program tahun 2025 beralih dari edukasi remaja panti menuju edukasi kesehatan masyarakat desa yang lebih komprehensif. Program ini menekankan pentingnya intervensi kesehatan yang berkelanjutan dengan pendekatan berbasis lingkungan sehat (eco-health). Salah satu inovasi nyata yang dihasilkan adalah penyusunan Buku Kesehatan sebagai output program, yang menjadi panduan praktis bagi masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat di lingkungan mereka.

Penerapan inovasi juga tampak jelas dalam metode pelaksanaan di lapangan. Tim menggunakan media poster yang menarik untuk mengedukasi anak-anak mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Mereka juga mengajarkan tentang makanan yang tidak baik bagi pertumbuhan tubuh anak, serta memperkenalkan konsep Isi Piringku untuk memahami gizi seimbang. Selain itu, anak-anak dilatih untuk berimajinasi dan belajar memilah sampah secara mandiri melalui kegiatan membuat tong cermat. Tak hanya berhenti di kegiatan kelompok, tim juga melakukan home visit langsung ke rumah-rumah warga. Kunjungan ini ditujukan bagi keluarga yang memerlukan edukasi khusus, terutama dalam hal kebersihan rumah tangga, kesehatan anak, dan gizi keluarga. Pendekatan personal ini menjadi salah satu bentuk intervensi mendalam yang memastikan setiap lapisan masyarakat mendapatkan manfaat dari program Salam Mengabdi 2025.

Adapun potensi keberlanjutan dari kegiatan ini terlihat pada pendampingan yang dilakukan oleh Kepala Desa, perangkat desa, serta mitra setempat yang senantiasa memberikan dukungan selama pelaksanaan program. Antusiasme masyarakat juga menjadi faktor penting, terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam setiap kegiatan yang kami selenggarakan, mulai dari pre-post test hingga penyampaian aspirasi. Selain itu, guru-guru sekolah menerima kami dengan ramah dan turut membantu dalam pemantauan mini garden di sekolah. Perangkat puskesmas pun berperan aktif dengan terus berkoordinasi secara baik pada tahap awal hingga pelaksanaan program. Inovasi berupa tong cermat untuk memilah sampah di Desa Cihamerang dan Sekolah Girimukti, serta kegiatan PHBS melalui pemberian handsanitizer, turut memperkuat penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Tidak kalah penting, peran ibu-ibu kader sebagai monitoring keberlanjutan PHBS di lingkungan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan hasil kegiatan ini.

Dari potensi keberlanjutan tersebut, harapan kegiatan selanjutnya dapat terus terlaksana dengan cakupan yang lebih luas serta kolaborasi yang semakin kuat antara perangkat desa, puskesmas, sekolah, dan masyarakat. Program ke depan diharapkan tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga pada pendampingan berkelanjutan yang berbasis pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri dalam menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungannya. Selain itu, kegiatan berikutnya diharapkan dapat mengembangkan inovasi baru yang lebih interaktif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, seperti penerapan sistem monitoring digital untuk PHBS dan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Dengan demikian, kebermanfaatan program dapat terus dirasakan dan memberikan dampak yang lebih luas dan mendalam bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Desa Cihamerang, Sukabumi.

Leave a Reply