Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). dr. Lisa Novianti, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi FKUI, berhasil meraih penghargaan sebagai 2025 Young Investigator Awardees dalam ajang internasional The 14th Congress of the Asia Pacific Initiative on Reproduction (ASPIRE) 2025 yang diselenggarakan pada 1–4 Mei 2025 di Suntec Convention and Exhibition Centre, Singapura.

Pada forum bergengsi tersebut, dr. Lisa mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Relationship between Level Expression of miRNA-191 and miRNA-372 and Embryo Morphokinetic” yang disusunnya dengan bimbingan dari staf pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI Dr. dr. Achmad Kemal Harzif, SpOG, Subsp.FER.
Penelitian dr. Lisa berangkat dari kebutuhan akan metode seleksi embrio yang lebih aman dalam program fertilisasi in vitro (IVF). Selama ini, metode trophectoderm biopsy digunakan untuk mengevaluasi embrio, namun prosedur ini bersifat invasif dan berisiko menyebabkan kerusakan pada embrio.
“Dengan berkembangnya teknologi reproduksi berbantu, diperlukan strategi seleksi embrio yang lebih akurat dan aman. Penelitian saya mencoba menjawab tantangan ini dengan pendekatan analisis mikroRNA yang diekspresikan dalam media kultur embrio,” jelas dr. Lisa.
mikroRNA (miRNA) merupakan regulator esensial dalam ekspresi gen dan berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk diferensiasi dan proliferasi sel selama tahap awal perkembangan embrio. “Beberapa studi menunjukkan bahwa miRNA-191 dan miRNA-372 memiliki keterlibatan dalam proses perkembangan embrio, namun hubungan antara ekspresi kedua miRNA tersebut dengan karakteristik morfokinetik embrio masih belum banyak diteliti,” tambah dr. Lisa.
Melalui analisis terhadap 124 sampel media kultur embrio menggunakan teknik qRT-PCR dan analisis statistik korelasi Spearman, penelitian ini menemukan bahwa miRNA-372 berkorelasi negatif signifikan dengan durasi siklus sel kedua, sementara miRNA-191 berkorelasi positif dengan waktu pencapaian tahap delapan sel.

“Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang kedua miRNA tersebut dapat berperan dalam proses pembelahan dan perkembangan embrio, serta berpotensi digunakan sebagai model non-invasif yang menjanjikan untuk memprediksi status kromosom embrio dalam program IVF,” tutur dr. Lisa.
ASPIRE 2025 adalah kegiatan ilmiah dalam bidang obstetri dan ginekologi yang dihadiri oleh para ahli reproduksi dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Tercatat, lebih dari 45 negara berpartisipasi dalam ajang ini yang menjadikan kompetisi ilmiah tersebut sangat kompetitif. Proses persiapan dr. Lisa menuju konferensi ini pun tidak mudah, di tengah kesibukannya menjalani pendidikan PPDS, Ia harus menyusun paper, mendalami materi, serta mempersiapkan presentasi dalam waktu yang relatif singkat.
“Tantangan terbesar saya adalah diri saya sendiri. Konferensi ini merupakan batu loncatan besar bagi saya. konferensi internasional yang bergengsi, dengan banyak narasumber dari berbagai negara serta peserta dari negara lain yang mempresentasikan banyak penelitian inovatif. Saya pun menjadi terpacu untuk berusaha mempersiapkan dan menyampaikan penelitian ini dengan sebaik mungkin.”

Pengalaman pertama mengikuti ASPIRE 2025 juga menjadi pembuka wawasan bagi dr. Lisa dan memotivasinya untuk semakin mendalami riset di bidang teknologi reproduksi berbantu. Ia juga menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas segala dukungan yang diterimanya selama proses persiapan hingga keberhasilannya meraih penghargaan.
“Semoga dengan award ini, saya bisa terus memperdalam penelitian di bidang yang saya tekuni, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Saya berharap hasil karya ini juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia akademik dan praktik klinis, khususnya dalam pengembangan teknologi non-invasif untuk seleksi embrio dalam program IVF. Saya tak henti mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala pengaturannya hingga saat ini. Terima kasih juga saya sampaikan kepada orang tua, keluarga, suami, dan anak saya yang menjadi penyemangat utama saya. Kepada pembimbing saya Dr. dr. Achmad Kemal Harzif dan teman-teman PPDS di Program Studi Obstetri dan Ginekologi FKUI yang telah membimbing dan mendukung saya sepanjang perjalanan ini.”
Sementara itu, Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, turut memberikan apresiasi atas pencapaian dr. Lisa. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa PPDS FKUI mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat internasional melalui inovasi riset yang relevan dan berdampak besar. Kami bangga atas capaian dr. Lisa dan mengapresiasi bimbingan luar biasa dari para staf pengajar, khususnya Dr. dr. Achmad Kemal Harzif, yang telah mendampingi proses penelitian ini dengan baik.”
