
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Kali ini, Nakeisha Jovita Purnomo, mahasiswa FKUI angkatan 2024 berhasil meraih juara kedua dalam kategori oral presentation pada ajang Symposium Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (PIPKRA) 2025 yang diselenggarakan pada 10–11 Mei 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Dalam ajang tersebut, Nakeisha mengusung sebuah penelitian yang disusun bersama timnya yang terdiri dari Keisha Rochelline Simorangkir (FKUI 2024); Regina Caeli Santoso (FKUI 2024); Stephen Dario Syofyan (FKUI 2023); Elia Setiawan (FKUI 2023); dan Felisha Yuwono (FKUI 2024). Mereka menggagas topik penelitian yang berjudul “Integrated Bioinformatics Analysis of PM2.5 Exposure Alters Tryptophan Metabolism via Differential Gene Expression: Implications for Lung Cancer Pathogenesis.” Penelitian ini dilakukan di bawah bimbingan Staf Pengajar dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI dr. Prasenohadi, Sp.P-KIC, Ph.D.
Nakeisha menjelaskan bahwa riset ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap tingginya tingkat polusi udara di kawasan perkotaan, khususnya wilayah Jabodetabek. “Hal ini meningkatkan kemungkinan masyarakat mengalami kanker paru, salah satu penyebab jumlah kematian tertinggi di Indonesia. Ini membuat saya terinspirasi untuk mencari lebih dalam mengenai proses yang terlibat dalam terjadinya perkembangan kanker paru.”

Polusi kendaraan melepaskan banyak emisi particulate matter 2.5 (PM2.5). Ukuran molekul kecil ini membuatnya dapat menembus dan merusak jaringan. Nakeisha dan tim menggali lebih dalam tentang bagaimana partikel halus PM2.5 dapat memicu kanker paru melalui mekanisme molekuler yang belum banyak dijelaskan. Mereka melakukan analisis terhadap data transkriptomik sel manusia yang terpapar PM2.5 dengan menggunakan berbagai alat bioinformatika seperti GEO2R, STRING, dan Enrichr.
“Hasilnya, kami berhasil mengidentifikasi 97 gen yang mengalami perubahan signifikan,” jelas Nakeisha. “Lebih lanjut, kami menemukan bahwa paparan PM2.5 mengganggu jalur metabolisme tryptophan, khususnya konversi melatonin menjadi 6-hydroxymelatonin – senyawa dengan aktivitas antioksidan yang lebih rendah. Gangguan ini menurunkan perlindungan terhadap stres oksidatif dan meningkatkan risiko mutasi DNA, sehingga dapat mempercepat perkembangan kanker paru.”
Temuan tersebut membuka peluang pemanfaatan melatonin sebagai terapi suportif dalam pengelolaan kanker paru. “Kami berharap riset ini dapat mendorong penelitian lanjutan untuk mengembangkan terapi yang lebih efektif dan aplikatif,” tambahnya.

Meskipun sempat merasa gugup saat tampil untuk pertama kalinya di depan audience yang banyak, Nakeisha merasa persiapan matang menjadi kunci utama keberhasilannya. “Saya tidak menyangka bisa menang. Saat nama saya disebut sebagai juara kedua, saya sangat terkejut dan tentunya sangat senang. Bisa mengikuti oral presentation sebagai mahasiswa tahun pertama pre-klinik adalah pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya.
Mengutip pesan yang menjadi motivasinya, Nakeisha menyampaikan harapannya, “Knowledge is no value if not put into action. Kedepannya saya berencana untuk bisa terus mengikuti berbagai kegiatan simposium untuk menambah pengalaman dan relasi saya. Saya juga berharap untuk bisa terus belajar lebih banyak hal lagi seputar penelitian dari para pembimbing-pembimbing yang sudah sangat ahli pada bidangnya. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, dosen pembimbing, tim peneliti, serta keluarga yang telah memberikan dukungan penuh selama proses penelitian,” ucapnya.
Menanggapi prestasi ini, Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menyampaikan apresiasinya. “Prestasi yang diraih oleh Nakeisha dan tim menunjukkan bahwa mahasiswa FKUI memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu kedokteran sejak tahun-tahun awal pendidikannya. Kami sangat bangga dan mendukung penuh semangat mereka dalam meneliti dan menghasilkan karya yang berdampak.”
