Ciptakan Kampanye Kesehatan yang Kreatif, Tim Mahasiswa FKUI Raih Juara dalam Kompetisi Internasional di Thailand

Tim mahasiswa FKUI yang terdiri atas Giovanni Dhimas Raditya Putra (FKUI 2022), Chesya Ejoli (FKUI 2024), dan Sherryl Raeffy Rayendra (FKUI 2024) menciptakan kampanye kesehatan kreatif bertajuk “Love Your Breath, For You and Me” yang ditujukan untuk menanggulangi maraknya penggunaan vape atau rokok elektrik (e-cigarettes) di kalangan anak muda. Kampanye ini dikompetisikan pada ajang Asian Medical Students’ Conference (AMSC) 2025 tanggal 20–26 Juli 2025 di Bangkok, Thailand. Tim Mahasiswa FKUI meraih Juara 2nd Runner-Up dalam kategori Public Health Challenge dalam kompetisi ini.

Menurut laporan portal data dan statistik Statista pada tahun 2023, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan persentase pengguna rokok elektrik tertinggi di dunia, yaitu sebesar 25%. Studi lain yang dipublikasikan di Jurnal Respirology menyebutkan bahwa diperkirakan 15,7 juta orang, yang sebagian besarnya adalah anak muda, menggunakan vape di Asia Pasifik pada tahun 2018 dan bisa mencapai 23,3 juta jika pola ini terus berlanjut.

Kondisi tersebut menjadi latar belakang utama bagi tim mahasiswa FKUI dalam menyusun kampanye kesehatan kreatif mereka yang solutif dan preventif serta dapat diimplementasikan secara nyata di masyarakat, khususnya untuk generasi muda yang rentan terhadap paparan rokok elektrik.

Tim mahasiswa FKUI menyusun sebuah kampanye kesehatan kreatif berbasis riset yaitu penggunaan Ya-Dom, inhaler khas Thailand, sebagai substitusi penggunaan rokok elektrik di kalangan muda. Ya-Dom dipilih karena memberikan efek relaksasi dan pereda stres serupa dengan vape, namun tanpa kandungan nikotin atau zat adiktif berbahaya.

“Kampanye kesehatan ini kami rancang setelah riset awal tentang urban health, kemudian kami berdiskusi tentang potensi substitusi vape yang sudah familiar di masyarakat. Ya-Dom kami nilai memiliki potensi besar karena legal, murah, dan memiliki risiko ketergantungan yang jauh lebih rendah daripada rokok atau vape,” jelas Chesya Ejoli.

Lebih lanjut, Chesya menjelaskan bahwa untuk mendukung efektivitasnya, inovasi ini dilengkapi dengan kampanye edukasi melalui media sosial, kisah inspiratif dari mantan perokok, serta kolaborasi dengan sekolah dan influencer. Pendekatan ini dirancang untuk membentuk kesadaran dan kebiasaan baru yang lebih sehat di kalangan anak muda.

“Kampanye kami bertujuan untuk mengubah kebiasaan kalangan muda yang ingin mencoba vaping dengan alternatif yang lebih aman seperti Ya-Dom, sekaligus sebagai pendukung terapi bagi mereka yang sudah terlanjur kecanduan rokok elektrik.”

Tim mahasiswa FKUI sebagai salah satu tim yang mewakili Indonesia, harus bersaing dengan 23 finalis lainnya yang berasal dari berbagai negara Asia dalam tantangan Public Health Challenge. Tantangan ini menekankan kreativitas dan pendekatan preventif dalam mengatasi isu kesehatan di masyarakat.

“Kami senang bisa mengikuti kompetisi internasional ini, terlebih lagi bisa meraih juara. Kompetisi ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan semangat kolaborasi dan inovasi bersama rekan-rekan dari AMSA Internasional. Kami berharap lomba yang serupa dapat menjadi pemicu bagi banyak mahasiswa kedokteran untuk selalu berinovasi, tidak hanya secara klinis, namun juga secara preventif untuk masyarakat,” tutup Chesya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, turut menyampaikan apresiasinya atas capaian membanggakan ini. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa FKUI dalam kompetisi internasional tidak hanya menjadi bukti kapasitas akademik yang unggul, tetapi juga menunjukkan kepedulian mereka terhadap isu kesehatan masyarakat yang nyata.

“Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih mahasiswa FKUI dalam ajang AMSC 2025. Inovasi yang mereka ciptakan mencerminkan semangat keilmuan dan kepedulian sosial yang kami tanamkan di lingkungan FKUI. Semoga keberhasilan ini menginspirasi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan solusi-solusi kreatif bagi tantangan kesehatan masyarakat di tingkat nasional maupun global,” ujar Prof. Ari Fahrial Syam.

Leave a Reply